Senin, 31 Oktober 2011

SALAH SATU MANFAAT RADIOKIMIA DALAM BIDANG PERTANIAN

 
PEMBERANTASAN HAMA DENGAN TEKNIK JANTAN MANDUL
Teknik Serangga Mandul (TSM) merupakan alternatif pengendalian hama termasuk
vektor penyakit yang potensial. Teknik ini relatif baru dan telah dilaporkan  merupakan cara
pengendalian vektor/serangga yang   ramah  lingkungan, sangat efektif, spesies spesifik dan
kompatibel dengan cara pengendalian lain. Prinsip dasar TSM sangat sederhana yaitu
membunuh serangga dengan serangga itu sendiri (autocidal  technique). Teknik ini meliputi
iradiasi koloni serangga jantan di laboratorium dengan sinar  γ, n atau x, kemudian secara
periodik dilepas di habitat vektor alami, sehingga tingkat kebolehjadian perkawinan antara
serangga jantan mandul dan fertil menjadi makin besar dari generasi pertama ke generasi
 berikutnya. Hal tersebut akan berakibat makin menurunnya prosen fertilitas populasi serangga
di habitatnya dan secara teoritis pada generasi ke-4 prosen fertilitas populasi mencapai titik
terendah menjadi 0% (generasi ke-5 nihil)[5,6].
Teknik nuklir merupakan salah satu teknik modern dan potensial dan telah mengalami
perkembangan pesat di dalam berbagai bidang  iptek, seperti kimia, biologi, pertanian
kesehatan/kedokteran. dll. Teknik nuklir adalah teknik yang memanfaatkan radioisotop untuk
memecahkan masalah litbang kesehatan karena memiliki sifat kimiawi dan sifat fisis yang
sama dengan zat kimia biasa namun mempunyai kelebihan sifat fisis memancarkan sinar
radioaktif [7].  Kelebihan sifat fisis sebagai  pemancar sinar radioaktif telah dimanfaatkan
untuk memecahkan masalah berbagai sektor litbang antara lain seperti sektor industri,
pertanian, kedokteran/kesehatan, biologi, pertanian, dan lingkungan.   
Faktor yang dianggap menyebabkan kemandulan pada serangga iradiasi  ialah mutasi lethal
dominan [8].  Dalam hal ini inti sel telur atau inti sperma mengalami kerusakan sebagai akibat
iradiasi sehingga terjadi mutasi gen.  Mutasi  lethal dominan tidak   menghambat  proses 
pembentukan  gamet jantan maupun betina, dan zygot yang terjadi juga tidak dihambat namun
embrio akan mengalami kematian. Prinsip dasar  mekanisme kemandulan  ini  untuk 
selanjutnya  dikembangkan    sebagai dasar pengembangan teknik  pengendalian serangga 
yang  disebut  Teknik Jantan Mandul yang dalam perkembangannya disebut Teknik  Serangga
Mandul. Tulisan ini bertujuan untuk memperkirakan berapa jumlah serangga mandul yang
harus dilepas kelapangan setelah diketahui jumlah populasi lapangan yang harus dikendalikan. 
PRINSIP DASAR TEKNIK SERANGGA MANDUL
 Walaupun konsep TSM sangat sederhana namun dalam implementasinya tidak
demikian sederhana karena meliputi banyak kegiatan penelitian yang meliputi biologi dasar,
ekologi lapang, estimasi jumlah serangga di  lapang untuk tiap-tiap  musim. Selain itu
efektivitas metoda sampling populasi sebelum  selama dan setelah pengendalian dilakukan,
orientasi dosis radiasi yang menyebabkan kemandulan, daya saing kawin serangga mandul,
metoda mass rearing yang ekonomis, metodologi pelepasan serangga mandul, transportasi
serangga jarak jauh, pemencaran dan perilaku kawin serangga mandul di lapang dan
  3organisasi pelaksana serta personalia di lapang.  Ini semua adalah beberapa kegiatan riset
yang penting sebelum dilakukan program pengendalian.  
Konsep penggunaan serangga untuk pemberantasan  atau pengendalian serangga
vektor itu sendiri melalui sistem pelepasan serangga mandul berasal dari Knipling dalam
Henneberry [9]. Teknik ini meliputi pemeliharaan massal serangga yang menjadi sasaran
pengendalian, kemandulan yang terinduksi oleh ionisasi radiasi dan pelepasan jumlah
serangga dalam jumlah yang cukup banyak untuk mendapatkan perbandingan yang tinggi
antara serangga mandul yang dilepas dan populasi serangga alam.   Perkawinan serangga
sebagian besar terjadi antara serangga jantan mandul dengan serangga betina alam sehingga
potensi penampilan reproduksi serangga alam berkurang secara proporsional.  
Menurut La Chance  syarat keberhasilan penggunaan TSM  sebagai berikut 
1.  Kemampuan pemeliharaan serangga secara massal dengan biaya murah.
2.  Serangga  sebagai target pengendalian harus dapat menyebar kedalam populasi alam
     sehingga  dapat  kawin dengan serangga betina fertil dan dapat bersaing dengan serangga
      jantan alami.
3.  Irradiasi  harus  tidak menimbulkan pengaruh negatif  terhadap perilaku  kawin  dan umur
     serangga jantan.
4.  Serangga  betina  kawin  satu  kali,  bila  serangga  betina  kawin lebih dari satu kali maka
     produksi sperma jantan iradiasi harus sama dengan produksi sperma jantan alam.
5.  Serangga      yang  akan   dikendalikan   harus   dalam  populasi  rendah  atau  harus
    dikendalikan   dengan  teknik  lain  agar  cukup  rendah  sehingga  cukup  ekonomis  untuk
    dikendalikan dengan TSM.
6.  Biaya  pengendalian  dengan  TSM  harus  lebih rendah dibandingkan dengan teknik
     konvensional.
7.  Perlu  justifikasi  yang kuat untuk penerapan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan
     teknik  konvensional  apabila  dengan  TSM  diperoleh  keuntungan  untuk  perlindungan
     kesehatan dan lingkungan.
8. Serangga mandul yang dilepas harus tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman,     ternak   
   atau menimbulkan penyakit pada manusia. 
PENGENDALIAN SERANGGA VEKTOR DI LAPANGAN DENGAN TEKNIK  SERANGGA MANDUL  
 Pendekatan pengendalian serangga yang sering dilakukan pada waktu ini ialah
pendekatan pengendalian  pada  lahan yang terbatas/sempit  yaitu  area per area atau  field by
field sedangkan serangga vektor tidak mengenal batas wilayah  sehingga yang sering terjadi
ialah serangga vector datang menyerang  secara tiba-tiba dalam jumlah yang banyak karena 
terjadi reinfestasi atau migrasi dari daerah yang lain.  Strategi pendekatan pengendalian  yang
lebih baik ialah pendekatan pengendalian serangga pada daerah yang luas (area wide control),
pendekatan pengendalian ini lebih efektif dan  efisien karena sasaran pengendalian adalah
terpusat pada perkembangan total populasi pada daerah yang luas tersebut.  TSM sangat
efektif, efisien dan kompatibel untuk diterapkan pada strategi pendekatan pengendalian vektor
pada daerah yang luas karena sasaran TSM sama yaitu  pengendalian total populasi serangga
vektor pada daerah yang luas [10].   
 Serangga tidak mengenal batas wilayah  atau batas kepemilikan maka Teknik
Serangga Mandul sangat cocok untuk konsep pengendalian pada daerah yang luas ( area-
wide).Teknik Serangga Mandul   kompatibel  dengan semua teknik pengendalian yang lain 
termasuk pengendalian  dengan insektisida yaitu pada saat populasi tinggi perlu diturunkan
dengan penyemprotan insektisida dan  berikutnya baru digunakan TSM,  karena TSM lebih
efektif dan efisien untuk pengendalian populasi serangga hama yang relatif rendah. Dengan
semakin majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka alternatif teknik
pengendalian yang lain menunjukkan potensi untuk dapat  diaplikasikan sehingga terminologi
seperti pengendalian serangga vector secara terpadu (integrated pest control), pengelolaan
serangga terpadu  (integrated   pest management), pengendalian secara kimiawi dan biologi
mulai timbul yang secara konseptual prinsip dasarnya melekat sesuai terminologi tersebut.
Prinsip dasar TSM adalah serangga dapat dengan mudah diproduksi secara masal, dapat
dimandulkan, mampu berdaya saing kawin dan lokasinya terisolir [11].  
Menurut Knipling ada 2 macam metode TSM yaitu :
1.  Metode  yang  meliputi  pembiakan  massal  di  laboratorium,  pemandulan  serangga dan
     penglepasan serangga mandul ke lapang.
2.  Metode pemandulan langsung terhadap serangga lapangan.
Metoda pertama yaitu menerangkan  jika kedalam suatu populasi serangga dilepaskan
serangga mandul, maka kemampuan populasi tersebut untuk berkembangbiak akan menurun
sesuai dengan perbandingan antara serangga mandul yang dilepaskan dan populasi serangga
di lapangan.  Apabila perbandingan antara  serangga jantan mandul dengan serangga jantan
normal yang ada di lapangan 1 : 1, maka kemampuan berkembangbiak populasi tersebut akan
menurun sebesar 50%.  Jika perbandingan tersebut adalah 9 : 1, maka  kemampuan populasi
tersebut untuk berkembang biak akan menurun sebesar 90% dan seterusnya.
 Metoda kedua, yaitu metoda tanpa penglepasan serangga yang dimandulkan.  Metode
ini  dilaksanakan  dengan  prinsip pemandulan langsung terhadap serangga lapangan yang
dapat dilakukan dengan menggunakan kemosterilan baik pada jantan maupun betina.  Dengan
metode kedua ini akan diperoleh dua macam pengaruh terhadap kemampuan berkembang biak
populasi.  Kedua pengaruh tersebut adalah mandulnya sebagian serangga lapangan sebagai
akibat langsung dari kemosterilan dan pengaruh kemudian dari serangga yang telah menjadi
mandul terhadap serangga sisanya yang masih fertil. Namun demikian khemosterilan
merupakan senyawa kimia yang bersifat mutagenik dan karsinogenik pada hewan maupun
manusia sehingga teknologi ini tidak direkomendasikan untuk pengendalian hama. 
Teknik pengendalian dengan cara membunuh serangga dengan jenis serangga yang
sama (autocidal technique). Dengan melepas serangga mandul dalam jumlah perbandingan (9)
serangga mandul : 1 serangga normal di alam) secara kontinyu mulai pada generasi pertama
sampai dengan pada generasi  ke lima sehingga menjadi nol (0), karena terjadi penurunan
fertilitas populasi serangga di  alam mulai generasi I sampai  ke generasi ke IV, dan pada
generasi ke IV fertilitas menjadi 0 %
 
Dara tabel di atas dapat dilihat model kecenderungan populasi alami dengan asumsi potensi
kenaikkan reproduksi 5 kali maka berturut-turut bila jumlah serangga generasi pertama 1juta
maka generasi ke 2,3 dan ke 4  makin naik  merupakan kelipatan 5 menjadi lima juta ,
duapuluh lima juta dan seratus duapuluh lima juta ekor serangga.  Selanjutnya    bila
dilakukan pengendalian secara konvensional dengan  insektisida (Tabel 2) dengan asumsi
reduksi populasi sebesar 90 %, maka  bila  populasi awal sebesar 1000.000 ekor  maka
populasi pada generasi ke 4 masih cukup tinggi  yaitu 62.000 ekor.
 
Model pengaruh penglepasan serangga mandul pada populasi serangga (Tabel 3)  
dengan rasio 9:1 terhadap serangga jantan  alami secara berkelanjutan tiap -  tiap  generasi  
dan  potensi reproduksi tiap ekor  serangga    betina induk menghasilkan 5   ekor serangga
betina anaknya untuk setiap  generasi  berikutnya dapat menyebabkan penurunan populasi 
yang sangat nyata . Dari generasi induk sebanyak  1 juta ekor serangga betina  maka pada  
generasi keturunan ke pertama ,kedua, ketiga  dan yang keempat populasi serangga   berturut-
turut  menurun  menjadi  26.316 ekor, 1.907 ekor, 10 ekor , dan 0 (nihil).
 
Selanjutnya model pengaruh  pengendalian secara terpadu dengan teknik kimiawi
dengan penyemprotan insektisida  dengan asumsi daya bunuh insektisida  90 % dan teknik
jantan mandul  (Tabel 4)  dapat menyebabkan penurunan populasi lebih efisien lagi. Berturut-
turut dari populasi generasi pertama  sebanyak  1 juta ekor maka pada keturunan pertama ,
kedua dan yang ke tiga menjadi  2.632 ekor betina , 189 ekor betina  dan  0 (nihil). 
 
Pengelolaan serangga secara terpadu (integrated pest management) adalah pemilihan,
integrasi dan implementasi teknik pengendalian serangga/vektor  agar supaya secara
ekonomis, ekologis, sosiologis menguntungkan [10, 11].TSM sangat baik untuk
diintegrasikan dan kompatibel dengan teknik pengendalian secara biologis pada daerah yang luas. 
KESIMPULAN 
 
 Prinsip dasar TSM sangat sederhana yaitu membunuh serangga dengan serangga itu
sendiri (autocidal  technique).  Teknik ini meliputi iradiasi koloni serangga di laboratorium
dengan sinar   γ, n atau x, kemudian secara periodik dilepas di lapang sehingga tingkat
kebolehjadian perkawinan antara serangga mandul dan serangga fertil menjadi makin besar
dari generasi pertama ke generasi berikutnya yang berakibat makin menurunnya persentase
fertilitas populasi serangga di  lapang yang secara  teoritis pada generasi ke-4 persentase
fertilitas mencapai titik terendah menjadi 0% atau dengan kata lain jumlah populasi serangga
pada generasi ke-5 nihil, dengan rasio 9:1.
 Pengaruh  pengendalian secara terpadu dengan TSM dan insektisida dapat
menyebabkan penurunan populasi pada daerah yang  luas lebih efisien. Berturut-turut dari
populasi generasi pertama  sebanyak 1 juta ekor maka pada keturunan pertama , kedua dan
yang ke tiga menjadi  2.632 ekor betina , 189 ekor betina  dan  0 (nihil). 

DAFTAR PUSTAKA
 
1.    DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Petunjuk Pemberantasan Nyamuk Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue, Dirjen PPM dan PLP,1992.
2.    Pedoman Survei Entomologi Malaria. DEPKES-RI. Ditjen Pemberantasan Penyakit  menular dan Penyehatan Lingkungan (Dit.Jen.PPM&PL) 2001.
3.    WHO, Prevention and Control of Dengue Haemorrhagic Fever, WHO Regional Publication. SEARO,No. 29, 2003.
4.    Molineaux L. The Epidemiology of Human Malaria as an explanation of its distribution,including some implications for its control.  In:  Wernsdorfer WH and Mc Gregor IA (eds) Principles and Practice of Malariology. Edinburgh: Churchill Livingstone, 1988 (II) : 913- 989.
5.    KNIPLING, E.F., Possibilitiesof Insect Control or Erredication Through the Use of  Sexuality Sterile, J. Econ. Entomol. 48, 459-462,1955.
6.    LANNUNZIATA, M. F., and LEGG, J.O.  1980.   Isotopes and Radiation in  Agricultural Sciences, Vol.I  Soil - Plant - Water Relationships,    Academic  Press,  London Orlando,    San   Diego,   San    Francisco,   New  York,  Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo, Sao Paulo
7.    BROWN,  J.K.  Radiation  Biology,   Radioisotope   Course  for  Graduates,  Australian School of nuclear Technology Lucas Height. 1973.
8.    LA  CHANCE,   L.E.      Genetics    and    Genetic    Manipulation  Techniques,   proc. of   FAO/IAEA  Training   Course  on    the  Use   of   Radioisotopes    and  Radiation  in Entomology, univ. of  florida,  97 – 99. 1979.
9.    HENNEBERRY,  T.J.  Developments   in Sterile Insect Release Research for the Control  of   Insect   Populations,    Proc.   of    FAO/IAEA    Training  Course  on   the  Use of Radioisotopes and  Radiation in Entomology, Univ. of Florida,  213 – 223. 1979.
10.    PROVERBS, M.D. Induced Sterilization  and   Control  of Insects, Annu. Rev.Entomol. (17),  P- 81 -102. 1968.
11.    KLASSEN,  W..  Strategies  for  Managing Pest Problems, Proc. of FAO/IAEA  TrainingCourse  on   the  Use  of   Radioisotopes and Radiation in Entomology, Univ. of  Florida  P- 248 – 283. 1977
12.    HENDRICHS J ,EYSEN M.J.B., ENKERLIN W.R., and CAYOL J.P. Strategic Options Using Sterile Insects for Area – Wide Integrated Pest Management, In V.A. Dyck,
13.    Hendrichs and  A. S   Robinson (eds.), Sterile Insect  Technique Principles and    Practice in Area-Wide Integrated Pest Management, Springer,P.O.Box 17,3300  AADordrecht,The Netherland, pp.564-567. 2005

Rabu, 26 Oktober 2011

Hidangan ala sunda

Pepes Ikan Mas Duri Lunak - Masakan Sunda

Pepes Ikan Mas, ataupun ikan-ikan lainnya yang layak dipepes, menurut saya adalah salah satu menu khas dari tanah Sunda. Ciri khas masakan Sunda menurut saya tergolong praktis, tanpa banyak mengeluarkan keringat dalam mengulek bumbu dan memarut kelapa untuk santan, walaupun tentu saja usaha-usaha tersebut tetap ada untuk masakan tertentu. Pepes Ikan mas walaupun bumbunya gampang, memasaknya lamaaaa....! dan kebanyakan teman-teman saya lebih suka mengordernya kepada saya daripada masak sendiri. Ya iya lah. Namun posting ini tetap saya tulis dan saya dedikasikan bagi Anda yang ingin bereksperimen untuk membuatnya sendiri. Eh menurut cerita, sehabis makan ikan mas, maka Anda akan mengantuk dengan dahsyat (ah eta mah kekenyangan aja, ikan mas bukan faktor). Tapi coba saja buktikan sendiri.

Pepes Ikan Mas Duri Lunak - Bahan-Bahan

2 Ekor Ikan Mas yang telah dibersihkan dan berukuran besar
1 Lembar Daun Pisang untuk bungkus secukupnya, dipanggang sebentar di api untuk melemaskan, atau dijemur

Bumbu-Bumbu

Bumbu Halus
5 siung Bawang Putih
10 siung Bawang Merah
2 potong kuyit ukuran sedang (5cm)
5 batang serai ambil bagian dalamnya, cincang halus

semua bahan ini dapat ditumbuk atau diparut

Bumbu Iris
1 ikat Bawang Daun (iris memanjang)
1 ikat daun kemangi (bersihkan, buang batang yang keras)
2 buah tomat ukuran sedang (potong-potong)
4 lembar daun salam
2 potong Jahe ukuran sedang (iris memanjang)
2 potong Lengkuas ukuran sedang (iris memanjang)

Tambahkan cabe rawit utuh atau irisan cabai merah bila suka.

Lumuri ikan mas dengan garam, biarkan meresap. Bila ingin mengurangi anyir tambahkan perasan jeruk nipis.
Bawang daun dan kemangi, diberi minyak goreng, tambahkan garam dan bumbu masak (misal Royco atau Maggi block) remas-remas sampai lemas. Bumbu lainnya dilumurkan kepada ikan masukan pula sebagian bumbu halus kedalam tubuh ikan, tambahkan bumbu iris dan bawang dan kemangi yang telah lemas tersebut.

Bungkus Ikan Mas dengan daun pisang, bisa direbus dengan air atau dikukus. Perlu diingat untuk mendapatkan pepes ikan mas tulang lunak ini lama memasaknya kurang lebih sekitar 8 jam. Setelah selesai, tiriskan. Agar harum dan wangi daun pisangnya menjadi unik, pangganglah pepes ikan ini sampai daun pisangnya agak-agak hangus dan berbau harum.

Template by:

Free Blog Templates