PEMBERANTASAN HAMA DENGAN TEKNIK JANTAN MANDUL
Teknik Serangga Mandul (TSM) merupakan alternatif pengendalian hama termasuk
vektor penyakit yang potensial. Teknik ini relatif baru dan telah dilaporkan merupakan cara
pengendalian vektor/serangga yang ramah lingkungan, sangat efektif, spesies spesifik dan
kompatibel dengan cara pengendalian lain. Prinsip dasar TSM sangat sederhana yaitu
membunuh serangga dengan serangga itu sendiri (autocidal technique). Teknik ini meliputi
iradiasi koloni serangga jantan di laboratorium dengan sinar γ, n atau x, kemudian secara
periodik dilepas di habitat vektor alami, sehingga tingkat kebolehjadian perkawinan antara
serangga jantan mandul dan fertil menjadi makin besar dari generasi pertama ke generasi
berikutnya. Hal tersebut akan berakibat makin menurunnya prosen fertilitas populasi serangga
di habitatnya dan secara teoritis pada generasi ke-4 prosen fertilitas populasi mencapai titik
terendah menjadi 0% (generasi ke-5 nihil)[5,6].
Teknik nuklir merupakan salah satu teknik modern dan potensial dan telah mengalami
perkembangan pesat di dalam berbagai bidang iptek, seperti kimia, biologi, pertanian
kesehatan/kedokteran. dll. Teknik nuklir adalah teknik yang memanfaatkan radioisotop untuk
memecahkan masalah litbang kesehatan karena memiliki sifat kimiawi dan sifat fisis yang
sama dengan zat kimia biasa namun mempunyai kelebihan sifat fisis memancarkan sinar
radioaktif [7]. Kelebihan sifat fisis sebagai pemancar sinar radioaktif telah dimanfaatkan
untuk memecahkan masalah berbagai sektor litbang antara lain seperti sektor industri,
pertanian, kedokteran/kesehatan, biologi, pertanian, dan lingkungan.
Faktor yang dianggap menyebabkan kemandulan pada serangga iradiasi ialah mutasi lethal
dominan [8]. Dalam hal ini inti sel telur atau inti sperma mengalami kerusakan sebagai akibat
iradiasi sehingga terjadi mutasi gen. Mutasi lethal dominan tidak menghambat proses
pembentukan gamet jantan maupun betina, dan zygot yang terjadi juga tidak dihambat namun
embrio akan mengalami kematian. Prinsip dasar mekanisme kemandulan ini untuk
selanjutnya dikembangkan sebagai dasar pengembangan teknik pengendalian serangga
yang disebut Teknik Jantan Mandul yang dalam perkembangannya disebut Teknik Serangga
Mandul. Tulisan ini bertujuan untuk memperkirakan berapa jumlah serangga mandul yang
harus dilepas kelapangan setelah diketahui jumlah populasi lapangan yang harus dikendalikan.
PRINSIP DASAR TEKNIK SERANGGA MANDUL
Walaupun konsep TSM sangat sederhana namun dalam implementasinya tidak
demikian sederhana karena meliputi banyak kegiatan penelitian yang meliputi biologi dasar,
ekologi lapang, estimasi jumlah serangga di lapang untuk tiap-tiap musim. Selain itu
efektivitas metoda sampling populasi sebelum selama dan setelah pengendalian dilakukan,
orientasi dosis radiasi yang menyebabkan kemandulan, daya saing kawin serangga mandul,
metoda mass rearing yang ekonomis, metodologi pelepasan serangga mandul, transportasi
serangga jarak jauh, pemencaran dan perilaku kawin serangga mandul di lapang dan
3organisasi pelaksana serta personalia di lapang. Ini semua adalah beberapa kegiatan riset
yang penting sebelum dilakukan program pengendalian.
Konsep penggunaan serangga untuk pemberantasan atau pengendalian serangga
vektor itu sendiri melalui sistem pelepasan serangga mandul berasal dari Knipling dalam
Henneberry [9]. Teknik ini meliputi pemeliharaan massal serangga yang menjadi sasaran
pengendalian, kemandulan yang terinduksi oleh ionisasi radiasi dan pelepasan jumlah
serangga dalam jumlah yang cukup banyak untuk mendapatkan perbandingan yang tinggi
antara serangga mandul yang dilepas dan populasi serangga alam. Perkawinan serangga
sebagian besar terjadi antara serangga jantan mandul dengan serangga betina alam sehingga
potensi penampilan reproduksi serangga alam berkurang secara proporsional.
Menurut La Chance syarat keberhasilan penggunaan TSM sebagai berikut
1. Kemampuan pemeliharaan serangga secara massal dengan biaya murah.
2. Serangga sebagai target pengendalian harus dapat menyebar kedalam populasi alam
sehingga dapat kawin dengan serangga betina fertil dan dapat bersaing dengan serangga
jantan alami.
3. Irradiasi harus tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap perilaku kawin dan umur
serangga jantan.
4. Serangga betina kawin satu kali, bila serangga betina kawin lebih dari satu kali maka
produksi sperma jantan iradiasi harus sama dengan produksi sperma jantan alam.
5. Serangga yang akan dikendalikan harus dalam populasi rendah atau harus
dikendalikan dengan teknik lain agar cukup rendah sehingga cukup ekonomis untuk
dikendalikan dengan TSM.
6. Biaya pengendalian dengan TSM harus lebih rendah dibandingkan dengan teknik
konvensional.
7. Perlu justifikasi yang kuat untuk penerapan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan
teknik konvensional apabila dengan TSM diperoleh keuntungan untuk perlindungan
kesehatan dan lingkungan.
8. Serangga mandul yang dilepas harus tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman, ternak
atau menimbulkan penyakit pada manusia.
PENGENDALIAN SERANGGA VEKTOR DI LAPANGAN DENGAN TEKNIK SERANGGA MANDUL
Pendekatan pengendalian serangga yang sering dilakukan pada waktu ini ialah
pendekatan pengendalian pada lahan yang terbatas/sempit yaitu area per area atau field by
field sedangkan serangga vektor tidak mengenal batas wilayah sehingga yang sering terjadi
ialah serangga vector datang menyerang secara tiba-tiba dalam jumlah yang banyak karena
terjadi reinfestasi atau migrasi dari daerah yang lain. Strategi pendekatan pengendalian yang
lebih baik ialah pendekatan pengendalian serangga pada daerah yang luas (area wide control),
pendekatan pengendalian ini lebih efektif dan efisien karena sasaran pengendalian adalah
terpusat pada perkembangan total populasi pada daerah yang luas tersebut. TSM sangat
efektif, efisien dan kompatibel untuk diterapkan pada strategi pendekatan pengendalian vektor
pada daerah yang luas karena sasaran TSM sama yaitu pengendalian total populasi serangga
vektor pada daerah yang luas [10].
Serangga tidak mengenal batas wilayah atau batas kepemilikan maka Teknik
Serangga Mandul sangat cocok untuk konsep pengendalian pada daerah yang luas ( area-
wide).Teknik Serangga Mandul kompatibel dengan semua teknik pengendalian yang lain
termasuk pengendalian dengan insektisida yaitu pada saat populasi tinggi perlu diturunkan
dengan penyemprotan insektisida dan berikutnya baru digunakan TSM, karena TSM lebih
efektif dan efisien untuk pengendalian populasi serangga hama yang relatif rendah. Dengan
semakin majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka alternatif teknik
pengendalian yang lain menunjukkan potensi untuk dapat diaplikasikan sehingga terminologi
seperti pengendalian serangga vector secara terpadu (integrated pest control), pengelolaan
serangga terpadu (integrated pest management), pengendalian secara kimiawi dan biologi
mulai timbul yang secara konseptual prinsip dasarnya melekat sesuai terminologi tersebut.
Prinsip dasar TSM adalah serangga dapat dengan mudah diproduksi secara masal, dapat
dimandulkan, mampu berdaya saing kawin dan lokasinya terisolir [11].
Menurut Knipling ada 2 macam metode TSM yaitu :
1. Metode yang meliputi pembiakan massal di laboratorium, pemandulan serangga dan
penglepasan serangga mandul ke lapang.
2. Metode pemandulan langsung terhadap serangga lapangan.
Metoda pertama yaitu menerangkan jika kedalam suatu populasi serangga dilepaskan
serangga mandul, maka kemampuan populasi tersebut untuk berkembangbiak akan menurun
sesuai dengan perbandingan antara serangga mandul yang dilepaskan dan populasi serangga
di lapangan. Apabila perbandingan antara serangga jantan mandul dengan serangga jantan
normal yang ada di lapangan 1 : 1, maka kemampuan berkembangbiak populasi tersebut akan
menurun sebesar 50%. Jika perbandingan tersebut adalah 9 : 1, maka kemampuan populasi
tersebut untuk berkembang biak akan menurun sebesar 90% dan seterusnya.
Metoda kedua, yaitu metoda tanpa penglepasan serangga yang dimandulkan. Metode
ini dilaksanakan dengan prinsip pemandulan langsung terhadap serangga lapangan yang
dapat dilakukan dengan menggunakan kemosterilan baik pada jantan maupun betina. Dengan
metode kedua ini akan diperoleh dua macam pengaruh terhadap kemampuan berkembang biak
populasi. Kedua pengaruh tersebut adalah mandulnya sebagian serangga lapangan sebagai
akibat langsung dari kemosterilan dan pengaruh kemudian dari serangga yang telah menjadi
mandul terhadap serangga sisanya yang masih fertil. Namun demikian khemosterilan
merupakan senyawa kimia yang bersifat mutagenik dan karsinogenik pada hewan maupun
manusia sehingga teknologi ini tidak direkomendasikan untuk pengendalian hama.
Teknik pengendalian dengan cara membunuh serangga dengan jenis serangga yang
sama (autocidal technique). Dengan melepas serangga mandul dalam jumlah perbandingan (9)
serangga mandul : 1 serangga normal di alam) secara kontinyu mulai pada generasi pertama
sampai dengan pada generasi ke lima sehingga menjadi nol (0), karena terjadi penurunan
fertilitas populasi serangga di alam mulai generasi I sampai ke generasi ke IV, dan pada
generasi ke IV fertilitas menjadi 0 %
Dara tabel di atas dapat dilihat model kecenderungan populasi alami dengan asumsi potensi
kenaikkan reproduksi 5 kali maka berturut-turut bila jumlah serangga generasi pertama 1juta
maka generasi ke 2,3 dan ke 4 makin naik merupakan kelipatan 5 menjadi lima juta ,
duapuluh lima juta dan seratus duapuluh lima juta ekor serangga. Selanjutnya bila
dilakukan pengendalian secara konvensional dengan insektisida (Tabel 2) dengan asumsi
reduksi populasi sebesar 90 %, maka bila populasi awal sebesar 1000.000 ekor maka
populasi pada generasi ke 4 masih cukup tinggi yaitu 62.000 ekor.
Model pengaruh penglepasan serangga mandul pada populasi serangga (Tabel 3)
dengan rasio 9:1 terhadap serangga jantan alami secara berkelanjutan tiap - tiap generasi
dan potensi reproduksi tiap ekor serangga betina induk menghasilkan 5 ekor serangga
betina anaknya untuk setiap generasi berikutnya dapat menyebabkan penurunan populasi
yang sangat nyata . Dari generasi induk sebanyak 1 juta ekor serangga betina maka pada
generasi keturunan ke pertama ,kedua, ketiga dan yang keempat populasi serangga berturut-
turut menurun menjadi 26.316 ekor, 1.907 ekor, 10 ekor , dan 0 (nihil).
Selanjutnya model pengaruh pengendalian secara terpadu dengan teknik kimiawi
dengan penyemprotan insektisida dengan asumsi daya bunuh insektisida 90 % dan teknik
jantan mandul (Tabel 4) dapat menyebabkan penurunan populasi lebih efisien lagi. Berturut-
turut dari populasi generasi pertama sebanyak 1 juta ekor maka pada keturunan pertama ,
kedua dan yang ke tiga menjadi 2.632 ekor betina , 189 ekor betina dan 0 (nihil).
Pengelolaan serangga secara terpadu (integrated pest management) adalah pemilihan,
integrasi dan implementasi teknik pengendalian serangga/vektor agar supaya secara
ekonomis, ekologis, sosiologis menguntungkan [10, 11].TSM sangat baik untuk
diintegrasikan dan kompatibel dengan teknik pengendalian secara biologis pada daerah yang luas.
KESIMPULAN
Prinsip dasar TSM sangat sederhana yaitu membunuh serangga dengan serangga itu
sendiri (autocidal technique). Teknik ini meliputi iradiasi koloni serangga di laboratorium
dengan sinar γ, n atau x, kemudian secara periodik dilepas di lapang sehingga tingkat
kebolehjadian perkawinan antara serangga mandul dan serangga fertil menjadi makin besar
dari generasi pertama ke generasi berikutnya yang berakibat makin menurunnya persentase
fertilitas populasi serangga di lapang yang secara teoritis pada generasi ke-4 persentase
fertilitas mencapai titik terendah menjadi 0% atau dengan kata lain jumlah populasi serangga
pada generasi ke-5 nihil, dengan rasio 9:1.
Pengaruh pengendalian secara terpadu dengan TSM dan insektisida dapat
menyebabkan penurunan populasi pada daerah yang luas lebih efisien. Berturut-turut dari
populasi generasi pertama sebanyak 1 juta ekor maka pada keturunan pertama , kedua dan
yang ke tiga menjadi 2.632 ekor betina , 189 ekor betina dan 0 (nihil).
DAFTAR PUSTAKA
1. DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Petunjuk Pemberantasan Nyamuk Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue, Dirjen PPM dan PLP,1992.
2. Pedoman Survei Entomologi Malaria. DEPKES-RI. Ditjen Pemberantasan Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan (Dit.Jen.PPM&PL) 2001.
3. WHO, Prevention and Control of Dengue Haemorrhagic Fever, WHO Regional Publication. SEARO,No. 29, 2003.
4. Molineaux L. The Epidemiology of Human Malaria as an explanation of its distribution,including some implications for its control. In: Wernsdorfer WH and Mc Gregor IA (eds) Principles and Practice of Malariology. Edinburgh: Churchill Livingstone, 1988 (II) : 913- 989.
5. KNIPLING, E.F., Possibilitiesof Insect Control or Erredication Through the Use of Sexuality Sterile, J. Econ. Entomol. 48, 459-462,1955.
6. LANNUNZIATA, M. F., and LEGG, J.O. 1980. Isotopes and Radiation in Agricultural Sciences, Vol.I Soil - Plant - Water Relationships, Academic Press, London Orlando, San Diego, San Francisco, New York, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo, Sao Paulo
7. BROWN, J.K. Radiation Biology, Radioisotope Course for Graduates, Australian School of nuclear Technology Lucas Height. 1973.
8. LA CHANCE, L.E. Genetics and Genetic Manipulation Techniques, proc. of FAO/IAEA Training Course on the Use of Radioisotopes and Radiation in Entomology, univ. of florida, 97 – 99. 1979.
9. HENNEBERRY, T.J. Developments in Sterile Insect Release Research for the Control of Insect Populations, Proc. of FAO/IAEA Training Course on the Use of Radioisotopes and Radiation in Entomology, Univ. of Florida, 213 – 223. 1979.
10. PROVERBS, M.D. Induced Sterilization and Control of Insects, Annu. Rev.Entomol. (17), P- 81 -102. 1968.
11. KLASSEN, W.. Strategies for Managing Pest Problems, Proc. of FAO/IAEA TrainingCourse on the Use of Radioisotopes and Radiation in Entomology, Univ. of Florida P- 248 – 283. 1977
12. HENDRICHS J ,EYSEN M.J.B., ENKERLIN W.R., and CAYOL J.P. Strategic Options Using Sterile Insects for Area – Wide Integrated Pest Management, In V.A. Dyck,
13. Hendrichs and A. S Robinson (eds.), Sterile Insect Technique Principles and Practice in Area-Wide Integrated Pest Management, Springer,P.O.Box 17,3300 AADordrecht,The Netherland, pp.564-567. 2005
Teknik Serangga Mandul (TSM) merupakan alternatif pengendalian hama termasuk
vektor penyakit yang potensial. Teknik ini relatif baru dan telah dilaporkan merupakan cara
pengendalian vektor/serangga yang ramah lingkungan, sangat efektif, spesies spesifik dan
kompatibel dengan cara pengendalian lain. Prinsip dasar TSM sangat sederhana yaitu
membunuh serangga dengan serangga itu sendiri (autocidal technique). Teknik ini meliputi
iradiasi koloni serangga jantan di laboratorium dengan sinar γ, n atau x, kemudian secara
periodik dilepas di habitat vektor alami, sehingga tingkat kebolehjadian perkawinan antara
serangga jantan mandul dan fertil menjadi makin besar dari generasi pertama ke generasi
berikutnya. Hal tersebut akan berakibat makin menurunnya prosen fertilitas populasi serangga
di habitatnya dan secara teoritis pada generasi ke-4 prosen fertilitas populasi mencapai titik
terendah menjadi 0% (generasi ke-5 nihil)[5,6].
Teknik nuklir merupakan salah satu teknik modern dan potensial dan telah mengalami
perkembangan pesat di dalam berbagai bidang iptek, seperti kimia, biologi, pertanian
kesehatan/kedokteran. dll. Teknik nuklir adalah teknik yang memanfaatkan radioisotop untuk
memecahkan masalah litbang kesehatan karena memiliki sifat kimiawi dan sifat fisis yang
sama dengan zat kimia biasa namun mempunyai kelebihan sifat fisis memancarkan sinar
radioaktif [7]. Kelebihan sifat fisis sebagai pemancar sinar radioaktif telah dimanfaatkan
untuk memecahkan masalah berbagai sektor litbang antara lain seperti sektor industri,
pertanian, kedokteran/kesehatan, biologi, pertanian, dan lingkungan.
Faktor yang dianggap menyebabkan kemandulan pada serangga iradiasi ialah mutasi lethal
dominan [8]. Dalam hal ini inti sel telur atau inti sperma mengalami kerusakan sebagai akibat
iradiasi sehingga terjadi mutasi gen. Mutasi lethal dominan tidak menghambat proses
pembentukan gamet jantan maupun betina, dan zygot yang terjadi juga tidak dihambat namun
embrio akan mengalami kematian. Prinsip dasar mekanisme kemandulan ini untuk
selanjutnya dikembangkan sebagai dasar pengembangan teknik pengendalian serangga
yang disebut Teknik Jantan Mandul yang dalam perkembangannya disebut Teknik Serangga
Mandul. Tulisan ini bertujuan untuk memperkirakan berapa jumlah serangga mandul yang
harus dilepas kelapangan setelah diketahui jumlah populasi lapangan yang harus dikendalikan.
PRINSIP DASAR TEKNIK SERANGGA MANDUL
Walaupun konsep TSM sangat sederhana namun dalam implementasinya tidak
demikian sederhana karena meliputi banyak kegiatan penelitian yang meliputi biologi dasar,
ekologi lapang, estimasi jumlah serangga di lapang untuk tiap-tiap musim. Selain itu
efektivitas metoda sampling populasi sebelum selama dan setelah pengendalian dilakukan,
orientasi dosis radiasi yang menyebabkan kemandulan, daya saing kawin serangga mandul,
metoda mass rearing yang ekonomis, metodologi pelepasan serangga mandul, transportasi
serangga jarak jauh, pemencaran dan perilaku kawin serangga mandul di lapang dan
3organisasi pelaksana serta personalia di lapang. Ini semua adalah beberapa kegiatan riset
yang penting sebelum dilakukan program pengendalian.
Konsep penggunaan serangga untuk pemberantasan atau pengendalian serangga
vektor itu sendiri melalui sistem pelepasan serangga mandul berasal dari Knipling dalam
Henneberry [9]. Teknik ini meliputi pemeliharaan massal serangga yang menjadi sasaran
pengendalian, kemandulan yang terinduksi oleh ionisasi radiasi dan pelepasan jumlah
serangga dalam jumlah yang cukup banyak untuk mendapatkan perbandingan yang tinggi
antara serangga mandul yang dilepas dan populasi serangga alam. Perkawinan serangga
sebagian besar terjadi antara serangga jantan mandul dengan serangga betina alam sehingga
potensi penampilan reproduksi serangga alam berkurang secara proporsional.
Menurut La Chance syarat keberhasilan penggunaan TSM sebagai berikut
1. Kemampuan pemeliharaan serangga secara massal dengan biaya murah.
2. Serangga sebagai target pengendalian harus dapat menyebar kedalam populasi alam
sehingga dapat kawin dengan serangga betina fertil dan dapat bersaing dengan serangga
jantan alami.
3. Irradiasi harus tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap perilaku kawin dan umur
serangga jantan.
4. Serangga betina kawin satu kali, bila serangga betina kawin lebih dari satu kali maka
produksi sperma jantan iradiasi harus sama dengan produksi sperma jantan alam.
5. Serangga yang akan dikendalikan harus dalam populasi rendah atau harus
dikendalikan dengan teknik lain agar cukup rendah sehingga cukup ekonomis untuk
dikendalikan dengan TSM.
6. Biaya pengendalian dengan TSM harus lebih rendah dibandingkan dengan teknik
konvensional.
7. Perlu justifikasi yang kuat untuk penerapan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan
teknik konvensional apabila dengan TSM diperoleh keuntungan untuk perlindungan
kesehatan dan lingkungan.
8. Serangga mandul yang dilepas harus tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman, ternak
atau menimbulkan penyakit pada manusia.
PENGENDALIAN SERANGGA VEKTOR DI LAPANGAN DENGAN TEKNIK SERANGGA MANDUL
Pendekatan pengendalian serangga yang sering dilakukan pada waktu ini ialah
pendekatan pengendalian pada lahan yang terbatas/sempit yaitu area per area atau field by
field sedangkan serangga vektor tidak mengenal batas wilayah sehingga yang sering terjadi
ialah serangga vector datang menyerang secara tiba-tiba dalam jumlah yang banyak karena
terjadi reinfestasi atau migrasi dari daerah yang lain. Strategi pendekatan pengendalian yang
lebih baik ialah pendekatan pengendalian serangga pada daerah yang luas (area wide control),
pendekatan pengendalian ini lebih efektif dan efisien karena sasaran pengendalian adalah
terpusat pada perkembangan total populasi pada daerah yang luas tersebut. TSM sangat
efektif, efisien dan kompatibel untuk diterapkan pada strategi pendekatan pengendalian vektor
pada daerah yang luas karena sasaran TSM sama yaitu pengendalian total populasi serangga
vektor pada daerah yang luas [10].
Serangga tidak mengenal batas wilayah atau batas kepemilikan maka Teknik
Serangga Mandul sangat cocok untuk konsep pengendalian pada daerah yang luas ( area-
wide).Teknik Serangga Mandul kompatibel dengan semua teknik pengendalian yang lain
termasuk pengendalian dengan insektisida yaitu pada saat populasi tinggi perlu diturunkan
dengan penyemprotan insektisida dan berikutnya baru digunakan TSM, karena TSM lebih
efektif dan efisien untuk pengendalian populasi serangga hama yang relatif rendah. Dengan
semakin majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka alternatif teknik
pengendalian yang lain menunjukkan potensi untuk dapat diaplikasikan sehingga terminologi
seperti pengendalian serangga vector secara terpadu (integrated pest control), pengelolaan
serangga terpadu (integrated pest management), pengendalian secara kimiawi dan biologi
mulai timbul yang secara konseptual prinsip dasarnya melekat sesuai terminologi tersebut.
Prinsip dasar TSM adalah serangga dapat dengan mudah diproduksi secara masal, dapat
dimandulkan, mampu berdaya saing kawin dan lokasinya terisolir [11].
Menurut Knipling ada 2 macam metode TSM yaitu :
1. Metode yang meliputi pembiakan massal di laboratorium, pemandulan serangga dan
penglepasan serangga mandul ke lapang.
2. Metode pemandulan langsung terhadap serangga lapangan.
Metoda pertama yaitu menerangkan jika kedalam suatu populasi serangga dilepaskan
serangga mandul, maka kemampuan populasi tersebut untuk berkembangbiak akan menurun
sesuai dengan perbandingan antara serangga mandul yang dilepaskan dan populasi serangga
di lapangan. Apabila perbandingan antara serangga jantan mandul dengan serangga jantan
normal yang ada di lapangan 1 : 1, maka kemampuan berkembangbiak populasi tersebut akan
menurun sebesar 50%. Jika perbandingan tersebut adalah 9 : 1, maka kemampuan populasi
tersebut untuk berkembang biak akan menurun sebesar 90% dan seterusnya.
Metoda kedua, yaitu metoda tanpa penglepasan serangga yang dimandulkan. Metode
ini dilaksanakan dengan prinsip pemandulan langsung terhadap serangga lapangan yang
dapat dilakukan dengan menggunakan kemosterilan baik pada jantan maupun betina. Dengan
metode kedua ini akan diperoleh dua macam pengaruh terhadap kemampuan berkembang biak
populasi. Kedua pengaruh tersebut adalah mandulnya sebagian serangga lapangan sebagai
akibat langsung dari kemosterilan dan pengaruh kemudian dari serangga yang telah menjadi
mandul terhadap serangga sisanya yang masih fertil. Namun demikian khemosterilan
merupakan senyawa kimia yang bersifat mutagenik dan karsinogenik pada hewan maupun
manusia sehingga teknologi ini tidak direkomendasikan untuk pengendalian hama.
Teknik pengendalian dengan cara membunuh serangga dengan jenis serangga yang
sama (autocidal technique). Dengan melepas serangga mandul dalam jumlah perbandingan (9)
serangga mandul : 1 serangga normal di alam) secara kontinyu mulai pada generasi pertama
sampai dengan pada generasi ke lima sehingga menjadi nol (0), karena terjadi penurunan
fertilitas populasi serangga di alam mulai generasi I sampai ke generasi ke IV, dan pada
generasi ke IV fertilitas menjadi 0 %
Dara tabel di atas dapat dilihat model kecenderungan populasi alami dengan asumsi potensi
kenaikkan reproduksi 5 kali maka berturut-turut bila jumlah serangga generasi pertama 1juta
maka generasi ke 2,3 dan ke 4 makin naik merupakan kelipatan 5 menjadi lima juta ,
duapuluh lima juta dan seratus duapuluh lima juta ekor serangga. Selanjutnya bila
dilakukan pengendalian secara konvensional dengan insektisida (Tabel 2) dengan asumsi
reduksi populasi sebesar 90 %, maka bila populasi awal sebesar 1000.000 ekor maka
populasi pada generasi ke 4 masih cukup tinggi yaitu 62.000 ekor.
Model pengaruh penglepasan serangga mandul pada populasi serangga (Tabel 3)
dengan rasio 9:1 terhadap serangga jantan alami secara berkelanjutan tiap - tiap generasi
dan potensi reproduksi tiap ekor serangga betina induk menghasilkan 5 ekor serangga
betina anaknya untuk setiap generasi berikutnya dapat menyebabkan penurunan populasi
yang sangat nyata . Dari generasi induk sebanyak 1 juta ekor serangga betina maka pada
generasi keturunan ke pertama ,kedua, ketiga dan yang keempat populasi serangga berturut-
turut menurun menjadi 26.316 ekor, 1.907 ekor, 10 ekor , dan 0 (nihil).
Selanjutnya model pengaruh pengendalian secara terpadu dengan teknik kimiawi
dengan penyemprotan insektisida dengan asumsi daya bunuh insektisida 90 % dan teknik
jantan mandul (Tabel 4) dapat menyebabkan penurunan populasi lebih efisien lagi. Berturut-
turut dari populasi generasi pertama sebanyak 1 juta ekor maka pada keturunan pertama ,
kedua dan yang ke tiga menjadi 2.632 ekor betina , 189 ekor betina dan 0 (nihil).
Pengelolaan serangga secara terpadu (integrated pest management) adalah pemilihan,
integrasi dan implementasi teknik pengendalian serangga/vektor agar supaya secara
ekonomis, ekologis, sosiologis menguntungkan [10, 11].TSM sangat baik untuk
diintegrasikan dan kompatibel dengan teknik pengendalian secara biologis pada daerah yang luas.
KESIMPULAN
Prinsip dasar TSM sangat sederhana yaitu membunuh serangga dengan serangga itu
sendiri (autocidal technique). Teknik ini meliputi iradiasi koloni serangga di laboratorium
dengan sinar γ, n atau x, kemudian secara periodik dilepas di lapang sehingga tingkat
kebolehjadian perkawinan antara serangga mandul dan serangga fertil menjadi makin besar
dari generasi pertama ke generasi berikutnya yang berakibat makin menurunnya persentase
fertilitas populasi serangga di lapang yang secara teoritis pada generasi ke-4 persentase
fertilitas mencapai titik terendah menjadi 0% atau dengan kata lain jumlah populasi serangga
pada generasi ke-5 nihil, dengan rasio 9:1.
Pengaruh pengendalian secara terpadu dengan TSM dan insektisida dapat
menyebabkan penurunan populasi pada daerah yang luas lebih efisien. Berturut-turut dari
populasi generasi pertama sebanyak 1 juta ekor maka pada keturunan pertama , kedua dan
yang ke tiga menjadi 2.632 ekor betina , 189 ekor betina dan 0 (nihil).
DAFTAR PUSTAKA
1. DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Petunjuk Pemberantasan Nyamuk Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue, Dirjen PPM dan PLP,1992.
2. Pedoman Survei Entomologi Malaria. DEPKES-RI. Ditjen Pemberantasan Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan (Dit.Jen.PPM&PL) 2001.
3. WHO, Prevention and Control of Dengue Haemorrhagic Fever, WHO Regional Publication. SEARO,No. 29, 2003.
4. Molineaux L. The Epidemiology of Human Malaria as an explanation of its distribution,including some implications for its control. In: Wernsdorfer WH and Mc Gregor IA (eds) Principles and Practice of Malariology. Edinburgh: Churchill Livingstone, 1988 (II) : 913- 989.
5. KNIPLING, E.F., Possibilitiesof Insect Control or Erredication Through the Use of Sexuality Sterile, J. Econ. Entomol. 48, 459-462,1955.
6. LANNUNZIATA, M. F., and LEGG, J.O. 1980. Isotopes and Radiation in Agricultural Sciences, Vol.I Soil - Plant - Water Relationships, Academic Press, London Orlando, San Diego, San Francisco, New York, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo, Sao Paulo
7. BROWN, J.K. Radiation Biology, Radioisotope Course for Graduates, Australian School of nuclear Technology Lucas Height. 1973.
8. LA CHANCE, L.E. Genetics and Genetic Manipulation Techniques, proc. of FAO/IAEA Training Course on the Use of Radioisotopes and Radiation in Entomology, univ. of florida, 97 – 99. 1979.
9. HENNEBERRY, T.J. Developments in Sterile Insect Release Research for the Control of Insect Populations, Proc. of FAO/IAEA Training Course on the Use of Radioisotopes and Radiation in Entomology, Univ. of Florida, 213 – 223. 1979.
10. PROVERBS, M.D. Induced Sterilization and Control of Insects, Annu. Rev.Entomol. (17), P- 81 -102. 1968.
11. KLASSEN, W.. Strategies for Managing Pest Problems, Proc. of FAO/IAEA TrainingCourse on the Use of Radioisotopes and Radiation in Entomology, Univ. of Florida P- 248 – 283. 1977
12. HENDRICHS J ,EYSEN M.J.B., ENKERLIN W.R., and CAYOL J.P. Strategic Options Using Sterile Insects for Area – Wide Integrated Pest Management, In V.A. Dyck,
13. Hendrichs and A. S Robinson (eds.), Sterile Insect Technique Principles and Practice in Area-Wide Integrated Pest Management, Springer,P.O.Box 17,3300 AADordrecht,The Netherland, pp.564-567. 2005

0 komentar:
Posting Komentar